×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

dulmyid - Informasi Terkini

Iklan

Candil Kuya

Tag Terpopuler

GLS di Tengah Minimnya Kesadaran Literasi

Jumat, 22 Januari 2021 | Januari 22, 2021 WIB


Oleh : Gregorius Ganggur*

 

Gerakan literasi adalah sebuah gebrakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menjawabi program pemerintah yaitu Gerakan Reformasi Mental Nasional (GRMN) yang tertuang dalam program NAWACITA. Keseriusan presiden Jokowi melakukan reformasi mental terbukti dengan mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada satuan pendidikan formal. Kemendikbud selaku nakhoda pendidikan di Indonesia mengejawantahkannya lewat penerbitan Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal. Sebelumnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Kedua Permendikbud tersebut menjadi acuan bagi satuan pendidikan untuk melaksanakan Gerakana Literasi Sekolah (GLS).

 

Sebelum mengetahui dasar program literasi sekolah, kita mesti tahu apa itu literasi. Literasi bermakna keberaksaraan atau keterpahaman. Keterpahaman itu tentunya erat kaitannya dengan keterpahaman membaca dan menulis. Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa, literasi adalah suatu istilah umum merujuk pada berbagai perangkat kemampuan siswa dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung serta memecahkan problematika terhadap tingkatan skill tertentu yang dibutuhkan di kehidupan. Sementara, dalam buku panduan Gerakan Literasi sekolah dijelaskan bahwa Literasi adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.

 

Pemerintah menyadari bahwa tingkat literasi Indonesia masih jauh dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara dan bahkan dikategorikan sangat rendah di kancah internasional. Sejumlah hasil survey lembaga international menempatkan Indonesia pada kategori negara dengan tingkat literasi sangat rendah. Sebagai contoh hasil survey Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD - Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis pada tanggal 03 Desember 2019 di Paris-Prancis, Indonesia berada di urutan ke 74 dari 79 negara dengan total nilai kemampuan literasi pelajar Indonesia sebesar 371. Nilai tersebut bahkan mengalami penurunan dari hasil nilai yang diperoleh Indonesia yang dirilis oleh PISA pada tahun 2012. Pada tahun 2012, PISA merilis hasil surveinya dimana Indonesia memperoleh nilai sebesar 384. Nilai 371 yang diperoleh Indonesia sama persis dengan capaian Indonesia pada kemampuan literasi yang dirilis oleh lembaga PISA pada tahun 2000. Selain hasil survei PISA, Lembaga Pusat penilaian pendidikan Kementrian pendidikan dan kebudayaan (Puspendik kemendikbud) dalam program Indonesian National Assessment Program (INAP) atau Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) pada tahun 2016 melakukan uji keterampilan membaca, matematika, dan sains peserta didik SD kelas IV. Pada kategori membaca hasilnya adalah 46,83% dalam kategori kurang, 47,11% dalam kategori cukup, dan hanya 6,06% dalam kategori baik (Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, hal. 2).  Hasil ini tentu sangat miris bila kita kembali melihat langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kemampuan literasi.

 

Menjawabi permasalahan tersebut di atas pemerintah lewat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, telah mencanangkan suatu program yang terstruktur dan tersistem lewat perubahan kurikulum dengan menetapkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sejak Maret 2016, pemerintah telah meluncurkan program ini. Sasaran dari program ini adalah para pelajar dan pelaku pendidikan mulai dari tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT). Tujuannya adalah agar generasi penerus bangsa melek literasi yakni sekurang-kurangnya melek baca dan tulis. Ketika para pelajar di semua tingkat satuan pendidikan memiliki kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pangkal dari multiliterasi maka akan memberikan positive effect terhadap kemampuan diri seorang literat. Seorang pelajar yang literat tentu akan memiliki kemampuan lebih dari pelajar non-literat. Selain itu tujuan mulia dari program ini tentu saja membentuk kepribadian atau karakter para pelajar. Penguatan pendidikan Karakter (PPK) yang merupakan ciri khas Kurikulum 2013, tidak hanya mampu lewat kegiatan esktrakurikuler kepramukaan, ataupun kegiatan bernuansa religi tetapi juga lewat program Gerakan Literasi Sekolah.

 

Pendidikan Budi Pekerti dan Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan tidaklah cukup untuk memperbaiki karakter dan kepribadian generasi penerus bangsa di era digital. Ketiadaan kemampuan literasi tentu akan berdampak buruk pada kemajuan bangsa dan negara Indonesia tercinta. Kemajuan dan kecanggihan alat teknologi saat ini memaksa kita untuk memiliki pengetahuan yang cukup untuk bisa melakukan filter terhadap sebuah informasi, berita dan perkembangan ilmu pengetahuan yang baru. Kemampuan filterisasi hanya akan bisa dilakukan oleh mereka yang multiliterat.

 

Lantas seperti apa pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah saat ini? Apakah semua lembaga pendidikan formal telah menjalankan program peningkatan melek aksara? Sejauh mana ketercapaian dari program GLS? Sederetan pertanyaan tersebut hanya sedikit dari berbagai pertanyaan yang mengganjal hati penulis saat ini. Menengok tujuan program ini tentu betapa mulianya niat dan tekat para inisiator atau penggagas gerakan literasi sekolah. Niat dan tujuan baik sang inisiator tentu sangat bergantung pada pelaksana lapangan. Ide brilliant tanpa sebuah aksi nyata tentu adalah sesuatu yang useless.

 

Menilik progress program literasi ini dari kacamata penulis belum menyentuh semua terutama sekolah-sekolah di bagian timur Indonesia. Nusa Tenggara Timur contohnya, masih sangat jauh dari harapan. Gerakan Literasi Sekolah sesungguhnya adalah gerakan nasional yang mestinya dijalankan serempak di seluruh lembaga pendidikan yang ada di Nusantara dari Sabang hingga Merauke, dari Sangir Talaud hingga Rote. Pengamatan dan pengalaman penulis yang juga adalah seorang pendidik, kegiatan GLS masih belum dilakukan secara maksimal dan bahkan beberapa sekolah di NTT belum menjalankan program GLS. Gerakan ini masih sebatas konsep tanpa sebuah tindakan nyata.

 

Berbagai kendala tentu menjadi penghambat terlaksananya gerakan pemberantasan melek literasi ini. Adapun beberapa kendala terhambatnya Gerakan Literasi Sekolah diantaranya : Pertama; ketiadaan fasilitas atau sarana dan prasarana. Fasilitas atau sarana dan prasarana menjadi alasan mendasar kevakuman Gerakan Literasi Sekolah. Perpustakaan dan ketersediaan buku referensi masih menjadi masalah utama dalam mengeksekusi gerakan literasi sekolah. Sekolah memiliki perpustakaan namun, belum memiliki ketersediaan buku referensi untuk menunjang kegiatan literasi sekolah. Dalam situasi seperti ini lembaga pendidikan sebagai motor penggerak gerakan ini tentu mengalami kesulitan untuk mengembangkan program Gerakan Literasi.

 

Kedua; Kurangnya koordinasi, partisipasi dan monitor dari otoritas atau lembaga penanggungjawab pendidikan di Indonesia. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan seolah berjalan sendiri. Pemerintah daerah dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang menangani pendidikan cenderung pasif. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota belum menjalankan fungsinya dengan baik sebagai perpanjangan tangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Kepedulian terhadap gerakan literasi sekolah justru hadir dari para sukarelawan atau komunitas baca yang peduli dengan kemampuan membaca anak negeri. Beberapa komunitas itu dengan sukarela melakukan kegiatan-kegiatan yang bernuansa literasi seperti mebuka lapak baca, membuka taman baca dengan menggunakana fasilitas pribadi atau kelompok. Pengawas sekolah yang menjembatani sekolah dan dinas juga kurang pekah terhadap program Gerakan Literasi Sekolah.

 

Ketiga ; adalah yang paling serius untuk segera dievaluasi adalah kurangnya kesadaran dari para eksekutor Gerakan Literasi Sekolah tentang pentingnya menjalankan program literasi. Hal ini, hemat penulis disebabkan karena para eksekutor dalam hal ini pendidik sesungguhnya masih banyak yang kurang melek literasi. Selain itu para pendidik juga merasa diri telah memiliki pengetahuan yang cukup untuk berbagi dengan peserta didik selaku generasi penerus bangsa. Tidak sedikit para pendidik yang merasa telah memiliki pengetahuan yang cukup tanpa menyadari bahwasanya ilmu ibarat sebuah aplikasi yang mestinya membutuhkan up-grade dan up-date. Suatu keniscayaan manakala pendidik sebagai ujung tombak Gerakan Literasi Sekolah tidak memiliki ilmu literasi yang cukup untuk menjalankan program literasi. Lebih menyedihkan lagi ketika pendidik merasa memiliki ilmu yang cukup untuk berbagi dengan peserta didik tanpa menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya tidak cukup untuk dibagi.

 

Melihat penting dan mulianya Gerakan Literasi Sekolah, evaluasi, bimbingan teknis dan monitoring terhadap semua unsur penggerak Gerakan Literasi sekolah adalah pekerjaan rumah yang mesti sesegera mungkin dilakukan. Koordinasi dan pengawasan pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah oleh dinas terkait baik provinsi maupun kabupaten/kota sebagai penyambung lidah program kementrian pendidikan dan kebudayaan mestinya terstruktur, tersistem dan berkelanjutan.

 

Pendidik sebagai eksekutor lapangan diberikan latihan, bimtek dan didorong agar serius menjalankan program melek literasi. Bila diperlukan mendesain sebuah program Gerakan Literasi untuk para pendidik sehingga akan terbentuk pendidik yang literat dan multiliterat. Guru yang literat dan multiliterat tentu akan melakukan berbagai cara dan inovasi untuk dapat menjalankan program Gerakan Literasi Sekolah. Sehingga dengan demikian akan terwujud cita-cita luhur untuk membentuk generasi penerus bangsa yang literat dan multiliterat serta dapat memperbaiki citra Indonesia di mata dunia.

 

*Penulis adalah Penggiat Literasi di Flores-Nusa Tenggara Timur

×
Berita Terbaru Update
CLOSE ADS
CLOSE ADS