×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

dulmyid - Informasi Terkini

Iklan

Candil Kuya

Tag Terpopuler

Sebuah Kenangan; Negeri ini Pernah Diurus oleh Negarawan Sejati.

Kamis, 04 Februari 2021 | Februari 04, 2021 WIB


JAKARTA-LIDAHTIMOR.COM
Melihat foto ini di timeline, kenangan langsung terbayang bagaimana metode pemilihan Menteri di era Pak Harto. Pemilihannya berjalan dengan selektif, berwibawa, berilmu dan berintegritas. Hampir tak pernah kita dengar ada Menteri era beliau yang aneh-aneh pernyataannya dan perbuatannya, semua tampak terdidik dan tertata dengan baik. Koordinasi antar departemen sangat baik, saling menghargai dan focus pada tugas dan tanggung jawab masing-masing, tidak ada yang menjadi Menteri segala urusan.
 

Pemilihan menteri semua berkompeten di bidangnya, meski zaman itu profesor sangat jarang, namun kebanyakan mereka bergelar profesor. Artinya apa...? Memang kemampuan akademik menjadi tolok ukur kemampuan, pemikiran, dan kewibawaan. Di acara kenegaraan baik itu ASEAN atau level dunia, mencari pemimpin kita paling gampang. Kalo foto bersama pasti berada di depan dan posisinya di tengah. Benar-benar dihormati sebagai pemimpin negara besar.

 

Beralih ke daerah... Tidak ada ceritanya zaman itu anak baru tamat kuliah jadi Bupati atau jadi anggota dewan... politik memang zona org yg mapan berpikir... mapan ekonomi dan mapan pendidikan.. Benar-benar diseleksi.

Level Gunernur atau Bupati setidaknya kalau kita ingat adalah pensiunan tentara berpangkat Kolonel atau mantan rektor atau pejabat yg sdh berpengalaman puluhan tahun. Jadi bisa menterjemahkan arah pembangunan dari skala nasional ke daerah.


Zaman itu, Politik bukan tempat orang-orang buangan yg tidak diterima di dunia kerja, lalu karena banyak duit dan banyak keluarga bisa menjadi anggota dewan dan pemimimpin daerah.

Dulu, mba Tutut bisa jadi menteri setelah berusia 49 tahun, itu pun sebelumnya pernah jadi anggota MPR RI. Jadi kalaupun disebut Nepotisme tapi memang bermutu. 
 
Bandingkan dengan sekarang...!!!
 
Perasaan sekarang ini Nepotismenya mencolok mata, meski dengan dalih dipilih langsung oleh rakyat.

Lantas...! Di tubuh kekuasaan dan Pemerintahan...? Siapa jadi apa, karena bapaknya ada di lingkaran kekuasaan.

Akh.. Benar-benar kangen zaman Pak Harto..

Dimana Zaman tak boleh ada sekolah swasta kaya, seragam SD sampai SMA diciptakan di jaman Pak Harto, tujuannya agar satu, si kaya dan si miskin bisa satu kelas dalam tujuan pendidikan.

Zaman dimana masa-masa swasembada pangan bahkan bisa ekspor, kita bisa hidup tenang tidak memikirkan habis beras. Saat itu, negara agraris bukan hanya slogan, semua dikelola dan dijamin oleh pemerintah..

Zaman pak Harto, Pak Tani dikasih temu mimbar dialog rutin dalam kelompencapir bukan dibohongi dengan subsidi pupuk dan traktor lalu ditarik lagi.

Zaman pak Harto, kalau ke sawah ya panen raya bersama. Era sekarang sangat beda, ke sawah pas dekat pemilu saja sampai masuk-masuk lumpur, tapi giliran sudah jadi...? Pematang sawah pun tak ditengok lagi.

Zaman Pak Harto masuk UI, masuk UGM murah banget. Zaman sekarang pendidikan na'uzubillah sangat mahal. Anak SD saja bisa puluhan juta masuk ke sekolah swasta yang status sosialnya tinggi, pendidikan dibawa ke komoditifikasi status sosial, jaman Pak Harto pendidikan dibawah negara, kualifikasi ada di tangan negara, sehingga yang maju sekolah-sekolah negeri. Kita masih ingat asal nama SMA 1 adalah sekolah terbaik, lalu ada sekolah-sekolah terbaik negeri di segala penjuru, si kaya dan si miskin bersekolah di tempat yang sama.

Zaman pak Harto, anak tukang becak kuliah sudah biasa, tapi zaman sekarang anak tukang becak bisa lulus di kedokteran dianggap mukjizat dan dirayakan besar-besaran. Sistim pendidikan dirampas hanya untuk orang kaya.

Zaman Pak Harto puskesmas di mana-mana, sistem pengobatan teratur, posyandu dijadikan gerbang besar kesehatan publik, ibu-ibu PKK dijadikan volunteer atas kinerja negara di bidang kesehatan, tapi di zaman sekarang, para dokter dan suster diajarkan bagaimana cara berbisnis, tidak ada lagi gairah pelayanan tanpa didalamnya ada nilai bisnis. Di zaman sekarang inilah tragedi kesehatan berlangsung sangat membingungkan.

Zaman Pak Harto... pendidikan, kesehatan dan papan menjadi tugas layanan negara. Dizaman demokrasi liberal... pendidikan, kesehatan dan papan menjadi alat kapitalis dalam menguras kerja rakyat. Tak ada pertanggungjawaban negara atas ruang publik.

Zaman Pak Harto, selalu dekat dan santun dengan Ulama. Makanya Negera ini sangat adem, karena diurus dengan sepenuh hati oleh sang Negarawan yang sejati.

Alfatihah untuk pak Harto dan para jajaran menteri yg telah almarhum. Amin.
 
 
Penulis : Nasrun Firdaus
Editor : Martin Uung
 
 

×
Berita Terbaru Update
CLOSE ADS
CLOSE ADS