×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

dulmyid - Informasi Terkini

Iklan

Candil Kuya

Tag Terpopuler

Tak Cukup Tertulis dengan Tinta Emas

Minggu, 21 Februari 2021 | Februari 21, 2021 WIB


LIDAHTIMOR.COM Kaum orang-orang terdidik sering mendendangkan kepada kita... bahwa setiap masa ada pemimpin... dan setiap pemimpin ada masanya. Kita pun sering tidak samggup berkutik dengan pameo tersebut; kita menerimanya baik secara bulat maupun dalam bentuk lonjong, sebab realitas yang kita saksikan dari periode ke periode, demikian adanya.
 
Tapi tidak semua pemimpin pada masanya; jangankan tinta emas yang tertulis untuk mengenang kejayaannya, tinta perak pun tak tertulis atas nama dan untuk dirinya, walau itu hanya sebesar satu pungtuasi. Nama dan kekuasaannya tak ubahnya seperti sebuah nama yang tertulis diatas tumpukan pasir, terhapus seketika walau hanya dengan sentuhan hujan rintik-rintik.
 
Dua makam dibawah ini adalah dari sekian banyak hamba Allah yang ada diwilayah kita yang sempat menulis namanya untuk dirinya dengan tinta emas. Datok Sulaeman dan Andi Mannenne Opu Topawennei.
 
Datok Sulaeman yang lahir di Koto Tengah Minangkabau adalah penyebar agama islam pertama di wilayah Luwu (1593). Sedang Andi Mannenne Opu Topawennei adalah Makole Baebunta yang lahir di Baebunta, kemudian wafat di Baebunta tahun 1905.Kita patut berterima kasih kepada Pemda Luwu Utata yang telah menetapkan kedua makam ini sebagai cagar budaya. Dan tidak terbantahkan oleh kita semua, bahwa kedua insan terhormat ini pada masanya, nilai-nilai perjuangan dan kebesarannya tertulis dengan tinta emas dalam risalah sejarah tanah Luwu. Tapi bukan hanya sebatas itu yang kita inginkan... bukan sekedar ditetapkannya sebagai makam cagar budaya kemudian kita puas dengan predikat itu.
 
Oh, tidak...Lebih dari sekedar membaca sejarah mereka dengan tinta emas, kita ingin mewarisi nilai-nilai spiritual dari semangat perjuangan mereka untuk melanjutkan kepemimpinan yang bermartabat dan berbudaya tinggi di tanah leluhur kita.
 
Dari Datok Sulaeman kita dapat mewarisi nilai-nilai spiritual agama sebagai pengisian diri kita sehingga tercipta sumber daya manusia yang beriman. Sedang dari Andi Mannenne Opu Topawennei kita dapat mewarisi nilai-nilai spiritual budaya, sehingga kita dapat tampil sebagai pemimpin yang berbudaya tinggi.
 
Kita berdoa... semoga ada diantara kita... atau keturunan dari Datok Sulaeman dan Andi Mannenne Opu Topawennei... yang mewarisi nilai-nilai spiritual itu, sehingga tampil sebagai pemimpin yang memimpin rakyat dan wilayah kita ini dengan sepenuh hati.
 
Penulis : Nasrun Firdaus
Editor : Martin Uung

×
Berita Terbaru Update
CLOSE ADS
CLOSE ADS