×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

dulmyid - Informasi Terkini

Iklan

Candil Kuya

Tag Terpopuler

Teknologi RKEF China, Mengapa Begitu Cepat

Minggu, 16 Mei 2021 | Mei 16, 2021 WIB


Oleh: Dr. (HC) Ir. Siswono Yudo Husodo

(Ini adalah tulisan Pak Ir. Siswono di WAG, semoga bisa memberikan gambaran dan wawasan untuk para pembaca.)
 
Saya ingin share apa yang saya tahu mengenai proyek Smelter China. Kebetulan saya terlibat langsung dalam mempelajari teknologi RKEF dari China dan bagaimana mereka bisa design dan bangun smelter dengan sangat cepat dan jauh lebih rendah capex nya dibanding non-China seperti Canada dan Jepang.

 
Jika bicara teknologi sebenarnya kebanyakan ahli metalurgi mengerti dan paham. Yang jadi keunggulan dari teknologi RKEF China adalah mereka bisa design dan membangun smelter tersebut dengan sangat ekonomis terutama cepat dan murah dengan kualitas yang cukup baik. Saya juga sudah mengunjungi beberapa smelter terbaik di China dan pernah berkunjung ke IMIP 2 kali dan ke Virtue Dragon.
 
Kenapa bisa cepat ?
Karena tim konstruksi mereka sudah sangat terampil dan berpengalaman dalam membangun smelter yang sama, plus didukung dengan perilaku pekerja China yang patuh pada atasan/pengawasnya, gila kerja sehingga produktivitas tenaga kerja China jauh di atas tenaga kerja Indonesia. Kenapa bisa murah/ekonomis ? Pertama, karena design-nya copy paste dan dibuat oleh Engineering Company dari China yang tentunya jauh lebih murah biaya-nya. Di Western Company ada rule biaya Scoping Study + Pre-FS + FS/BFS adalah 3% dari Nilai Proyek. Kalau Chinese Company biaya-nya bisa kurang 0.5 % dari nilai proyek karena mereka buat FS hanya untuk kebutuhan Financing karena design nya copy paste. Kedua, hampir semua peralatan bisa difabrikasi di China dengan material dari China oleh tenaga kerja China yang pasti jauh lebih murah. Ketiga, konstruksi dapat dilakukan dengan sangat cepat (hanya butuh waktu sktr 2 tahun, bahkan kalau sudah brownfield/expansion bisa selesai dalam waktu 16 bulan saja), ini luar biasa cepat sehingga biaya Capex juga bisa lebih murah. Sebagai gambaran, kebanyakan masa konstruksi proyek smelter Ni paling cepat 3 tahun baru bisa selesai.
 
Proses ramp-up saat produksi relative sangat cepat bisa mencapai design capacity nya, cukup 1 tahun dibanding yang biasanya butuh sktr 3 tahun. Kenapa bisa ? Karena skill dari operator dari China yang sudah berpengalaman mengoperasikan smelter yang sama. Pertanyaannya, Apakah orang Indonesia bisa mengoperasikan smelter tersebut ? Tentunya bisa jika, dilatih tapi butuh waktu sampai bisa mahir. Dan yang saya tahu (kebetulan saya punya teman yang jadi manager di IMIP), untuk smelter yang sudah beroperasi, mayoritas sudah menggunakan tenaga kerja lokal, TKA China sudah <10%. 
 
Kenapa masih ribuan TKA China didatangkan? Karena penambahan smelter baru terus dibangun dan untuk konstruksi memang banyak TKA China yang dipakai agar bisa cepat selesai, yang awalnya hanya 4 production trains tahun 2016, saat ini sudah lebih 30 trains plus terintegrasi dgn 3 Juta ton Stainless Steel Plant dan beberapa juta ton Carbon Steel, tiap tahun smelter bertambah sampai tahun ini masih ada penambahan smelter baru sehingga total akan jadi 36 trains (1 line berkapasitas sekitar 7,500 ton Nikel per tahun). Tahun lalu actual produksi Nikel di IMIP sekitar 240,000 ton Nikel (dibandingkan FeNi Antam di Pomalaa sekitar 26,000 ton dan Vale di Sorowako sktr 75,000 ton per tahun). Tentu luar biasa pencapaian IMIP ini karena kapasitas smelter nya sudah menjadi yang terbesar dan termurah di Dunia dan terintegrasi Stainless Steel hanya dalam waktu 5-7 tahun saja, yang tidak pernah ada yang berpikir sebelumnya model seperti ini. Plus mereka juga sedang konstruksi pabrik Hydrometallurgy/HPAL di kawasan industry yang sama. Dari info yang saya dapat, total tenaga kerja sudah sekitar 50,000 orang dan TKA China nya di bawah 15% yang mayoritas untuk konstruksi/commissioning/pengoperasian awal smelter. Untuk smelter yang sudah beroperasi beberapa tahun, tenaga kerja Indonesia nya sudah lebih dari 90%.
 
Dan yang pasti multiflier effect nya pasti sangat besar. Pertumbuhan ekonomi di Sulteng dan Morowali termasuk yang tertinggi di Indonesia. Yang perlu didorong adalah peningkatan dalam HSE Management, Corporate Governance, dan Program CSR yang lebih efektif dan sustainable.
 
*

×
Berita Terbaru Update
CLOSE ADS
CLOSE ADS