×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

dulmyid - Informasi Terkini

Iklan

Candil Kuya

Tag Terpopuler

Generasi Sompen (In Memoriam No Abi)

Selasa, 29 Juni 2021 | Juni 29, 2021 WIB


 Oleh : GF.Didinong*

Film itu berjudul MEREKA KEMBALI. Itu sebuah film perjuangan kemerdekaan yang pernah diputar di bioskop Iligai Maumere tahun 70 an. Berkisah tentang para pejuang yang pulang kembali dari front pertempuran. Om Buang Weka, operator di bioskop misbar itu seperti biasanya tidak bosan bosan memutar kembali film itu setiap malam. Mungkin tayang hampir sebulan lamanya. Maklum, di masa itu hiburan masih terbatas buat orang Maumere.

Film MEREKA KEMBALI ternyata juga menjadi inspirasi bagi sekelompok anak anak Kota Baru Maumere, sebuah kawasan perumahan pegawai pemda di seputaran Bioskop Iligai tersebut untuk bermain perang perangan di masa itu. Kelompok anak anak yang saya sebut Generasi Sompen. Generasi sompen itu kelompok anak anak pegawai pemda Sikka di kawasan Kota Baru Maumere. Generasi ini hadir di antara tahun 60 an hingga 80 an di kawasan seputar Kotabaru Maumere. Ada kelompok senior ada yang lebih yunior. Masing masing dengan angkatannya sendiri sendiri.

Sebut nama teman sepermainan seperti Mena, Ratno, Soni, Ams, Nino, Leksi, Edi, Na, Riki, Bayo, Oni, Toni, Sinto, Riki, Diki, Agus, John, Tin Miger, Kadek, dan lain lain adalah termasuk dalam generasi sompen tahun 70 an... no Abi Pareira, no Beril dan lain lain itu masuk dalam angkatan kelompok yang sedikit lebih yunior.  Rotasi hidup dan aktivitas harian generasi sompen sungguh tak jauh jauh dari sebuah pohon sompen di halaman rumah klerk Tinus BL de Rozari.

Di sekitar pohon sompen itu kami anak anak laki biasa bermain bola lawit, main kucing kaleng, main pocis, bakulai, dikejar anjing, main patakilo, main perang perangan, ganggu orang gila, atau duduk anteng di bale bale asyik mendengar ceritera ceritera silat Khoo Ping Ho dari om Tinus. Sementara itu anak perempuan seperti Ria, Maya, In, Din, Elsi, Heni dan lain lain biasanya sibuk bermain tali merdeka, main siput, atau main masak masakan.

Ketika itu no Abi ini, begitu kami biasa menyebut namanya, baru belajar merangkak. Paling jauh dia ikutan main tumbuk tumbuk belanga, belanga minyak rom, rom sakalele, tom tom tom.

Di masa masa itu, sehabis sekolah anak anak Kota Baru biasa datang tanpa komando mengalir ke pohon sompen itu. Kalau sedang musim sompen, anak laki laki pemberani tanpa takut (bajingan) sering tanpa ijin tahu tahu sudah bertengger di dahan atau pucuk tertinggi untuk menikmati sompen gemuk hitam manis nan legit. Biasanya suka petik terus sembunyi buah sompen matang banyak banyak memang dalam baju kaos isi dalam. Bangga sekali kalau perutnya nampak buncit. Kalau dia baik hati atau suka cari muka dan makan puji, dia akan redong dahan sompen atau petik beberapa rangkai dan oper buat nona nona di bawah pohon yang dengan kepala tengadah ke atas dan tadah kedua telapak tangan sambil minta minta bilang bagi sa ko... iiiih bagi sa ko...oh kau awasee kalau tidak mau bagi sa...

Romantisme generasi sompen tinggal bayang bayang saja. Jaman sudah berubah. Budaya guyub telah bergeser. Rumah rumah pegawai di Kotabaru yang legendaris itu kehilangan roh beralih fungsi. Warna kota berubah. Sebagian sejarah kota sirna tanpa landmark. Taman Pertiwi, Tugu PD II di Kotabaru misalnya kini berganti dengan situs Moan Teka dstnya...

Setelah hampir 40 tahun, saya bertemu lagi no Abi pada suatu pagi di tahun 2009 di Maumere. Ia sedang bertugas mengawal Pa Sosi dan pa Dami Wera yang datang ke rumah untuk urusan nomenklatur Pelabuhan Laut Maumere. Melihat wajah no Abi dalam balutan uniform ASN, timbul rasa bangga. Sontak saya teringat akan wajah om Tinus. Mirip sekali.

Seperti dalam film MEREKA KEMBALI, Anak anak generasi sompen satu per satu mulai pulang dari medan perang...kembali ke rumah abadi....

 

*Penulis adalah Ketua Bidang Sosial dan Budaya DPP FKM FLOBMORA-Jakarta, Pemerhati Sosial dan tinggal di Jakarta

×
Berita Terbaru Update
CLOSE ADS
CLOSE ADS