×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

dulmyid - Informasi Terkini

Iklan

Candil Kuya

Tag Terpopuler

In Memoriam: Abang Rikus Laja Bhae

Kamis, 01 Juli 2021 | Juli 01, 2021 WIB


Oleh : Siprianus Bate Soro*
 
Selamat Jalan, Mosa Mèku! Kami mengenal Abang Rikus Laja sebagai sosok yang lemah lembut, penuh senyum dan ramah. Beliau baru saja menutup usia tiga hari yang lalu, 1 Juli 2021, jelang 59 tahun. Beliau meninggalkan seorang istri, Mama Adel Losa Jati, dan ketiga anak mereka: Nona Tanti, Charlie, dan Nona Liyani. Nona Tanti sudah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum, Universitas Atma Jaya, dan sedang memulai praktek pengacara mengikuti jejak mendiang ayahnya. Charlie kini sedang menjalani studi bidang pelayaran di Akademi Maritim Nasional Jakarta. Nona Liyani kini duduk di bangku SMA.
 
Abang Rikus dilahirkan di Mataloko, anak seorang tetua adat (mosalaki), Alm. Bapak Herman Bhae Dhèghe dari Sa'o Nanga Pawe, Woe Deru, Nua Wogo, dan ibundanya Mama Katarina Du'e Mude dari Sa'o Maghi Doa Azi, Woe Laja, Nua Sadha.
 
Untuk komunitas Ngada diaspora di Jakarta, khususnya yang berasal dari Mataloko, Wogo dan Sadha-Laja, pasti mengenal dengan baik sosok ini. Beliau adalah bagian dari komunitas Arisan Gaja Gora, yakni persaudaraan sesama komunitas diaspora Jakarta dari Mataloko, Wogo, Sadha-Laja, serta Were. Persaudaraan yg terbina dalam komunitas arisan ini selalu menciptakan rasa "home" atau "rumah sendiri" di tengah hiruk pikuknya kehidupan di Kota Metropolitan Jakarta. Abang Rikus sebagai salah satu senior kami dalam komunitas ini selalu menciptakan suasana akrab dan betah bagi kami semua.
 
Abang Rikus adalah seorang profesional yang sukses. Beliau adalah salah satu dari sangat sedikit orang dari komunitas Ngada diaspora yang menjalani hidup sebagai pengacara atau lawyer. Bahkan beliau mempunyai Law Firm sendiri yang ditekuninya bersama rekan-rekan sejawatnya. Tidak banyak kasus yang ditanganinya bersinggungan dengan kaum selebritis ataupun politikus sehingga jarang mendapat sorotan media massa. Namun beliau menekuni profesinya untuk memberikan pembelaan hukum bagi warga yang membutuhkan tidak saja di Jakarta tetapi juga di beberapa kota di Indonesia. Tak jarang dalam satu dua kesempatan saya menyaksikan kasus yang ditanganinya diliput media TV nasional. Berkat inspirasi beliau, kini bermunculan generasi muda Ngada diaspora Jakarta yang mulai menekuni profesi lawyer.
 
Abang Rikus generasi ketiga dari masyarakat kampung kami yang menikmati pendidikan yang baik. Beliau mengawali sekolahnya di SDK Sadha-Laja (kini Kec. Golewa Selatan, Ngada), kemudian SMP Supra-Mataloko (kini Kec. Golewa, Ngada), kemudian masuk SMA 435 Bajawa (Ibu Kota Kabupaten Ngada). Menyadari akan adanya bibit-bibit awal panggilan hidup untuk menjadi imam, setelah tamat SMA dia sempat menjalani tahun Postulat OFM di Pagal, kemudian melanjutkan tahun novisiat di Papringan Yogjakarta. Selama dua tahun di biara OFM, beliau mendalami spiritualitas OFM yang sangat menekankan Hidup Persaudaraan dan Hidup Sederhana. Kedua hal tsb sangat mempengaruhi dan mewarnai gaya hidupnya kelak sebagai pengacara.
 
Sebagai pengacara, dia memiliki prinsip membela dan memperjuangkan kebenaran serta prioritas membela hak kaum yang termarjinalkan. Dia sering membela hak klien tanpa memungut bayaran.
 
Lebih dari itu, spiritualitas Fransiskan sangat mewarnai hidupnya yang dijalaninya secara sederhana. Dari hasil keringatnya, dia banyak sekali membantu bukan saja adik-adik dan para keponakannya, tetapi juga orang lain yang sungguh membutuhkan bantuan.
 
Baru setahun di Yogyakarta, beliau memilih untuk keluar biara dan memulai kehidupan baru di Ibu Kota Jakarta. Ternyata jalan menuju sukses sungguh tidak mudah. Abang Rikus memulai petualangan baru di Metropolitan dengan menjadi tukang parkir di bilangan Glodok, sebuah pusat perbelanjaan yg amat terkenal di era 1980-an.
 
Di mata sejumlah kerabatnya, perofesi juru parkir kurang cocok bagi Abang Rikus dan mendorongnya untuk kembali melanjutkan pendidikan di universitas. Tak tanggung-tanggung, salah seorang kakak sepupu setengah memaksa agar beliau masuk Universitas Atma Jaya, walaupun harus berjibaku untuk mendapatkan biaya kuliah.
 
Rupanya selalu ada jalan bagi yang berkemauan. Abang Rikus kemudian mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran yang sangat bonafid di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Dengan pendapatan dari pekerjaannya sebagai pramusaji restoran, kelak beliau menuntaskan studinya di Fakultas Hukum, Universitas Atma Jaya, Jakarta, hingga lulus dan di-wisuda tahun 1990.
 
Keberhasilan Abang Rikus di Ibu Kota menambah kisah-kisah sukses para perantau dari kampung halaman kami. Mengingat latar belakang orangtua dari kampung halaman kami umumnya adalah petani dengan aset serba terbatas, keberhasilan satu anak menjadi contoh baik bagi anak-anak lain dari generasi sesudahnya untuk berani berjuang untuk maju walau harus memerjang berbagai hambatan dan keterbatasan.
 
Berbekal pendidikan yang mumpuni di bidang hukum, Abang Rikus pernah malang melintang dalam dunia advokasi bantuan hukum di masa-masa akhir Orde Baru, melalui LBH "Veritas" di bawah asuhan Bapak Centis da Costa, Bapak Armin Aryoso, dan kawan-kawan yang dekat sekali dengan TPDI (Team Pembela Demokrasi Indonesia). Secara langsung maupun tak langsung, berbagai advokasi tersebut berkontribusi bagi lahirnya era reformasi yang ditandai dengan Pemilu 1999 yang jauh lebih demokratis.
 
Rupanya banyak aktivis advokasi tersebut yang kelak terpilih menjadi anggota DPR RI melalui Pemilu 1999. Berkat jaringan kerjanya yang sangat luas, maka Abang Rikus mendapat kesempatan untuk menempati rumah dinas Bapak Armin Aryoso selaku anggota DPR dari PDIP sembari menjalani tugas advokasi menunjang fungsi perwakilan/representasi beliau.
 
Ketika saya mulai pindah bekerja di Kantor Pusat UNHCR Indonesia di Jakarta di pertengahan tahun 2001, saya sedang mencari tempat tinggal. Abang Rikus menawarkan untuk bermukim sementara di rumahnya di Kompleks Perumahan DPR Kalibata. Di tempat inilah saya banyak menimba pengalaman langsung dari beliau tentang perjuangan kuliahnya, ketatnya persaingan di Ibu Kota, tentang berbagai kegiatan advokasi bantuan hukum. Nasihat beliau yg saya ingat ketika itu adalah teruslah berjuang dan bersaing di Ibu Kota hingga sukses dan jangan sampai pulang kampung karena kalah bersaing.
 
Sejak itu, selama 20 tahun kami bersama menjadi bagian dari satu komunitas diaspora Ngada Jakarta yang berasal dari kampung halaman yang sama dari wilayah Mataloko, Wogo, Sadha-Laja, Niba-Mawo, dan Were. Komunitas ini kemudian membentuk Kelompok Arisan Gaja Gora yang bertemu setiap bulan untuk saling berbagi baik dalam suka maupun duka. Berada bersama dalam komunitas ini menjadikan Jakarta serasa kampung halaman sendiri. Selain arisan, ada doa bersama, ziarah bersama, dan piknik bersama. Dengan kepribadiannya yang sangat tenang, ramah dan komunikatif, Abang Rikus turut menjadikan komunitas ini hangat dan akrab.
 
Ada sisi lain dari komunitas ini yang ringan dan akrab adalah permainan poker di antara bapak-bapak! Kegiatan ini biasanya dilakukan ketika agenda pembicaraan sudah tuntas. Ketika kaum ibu saling berbagi cerita tentang berbagai peluang bisnis sampingan, maka bapak-bapak akan membentuk kelompok permainan poker. Abang Rikus adalah salah satu yang piawai di antara para senior komunitas. Selain kepiawaian menghitung berbagai nilai kartu yang telah dilempar ke meja permainan dan yang masih dipegang di tangan, kemenangan poker game ini juga ditentukan oleh riak wajah (poker face). Wajah dan penampilan Abang Rikus yang tenang membuat para lawannya susah membaca apakah kartunya bagus atau jelek, dan kerap kali memenangkan permainan.
 
Abang Rikus dan Mama Adel sekeluarga sangat peduli dengan kaum muda di antara komunitas kami. Mereka banyak memberikan pendampingan kepada anak-anak muda yang baru datang di Ibu Kota hingga berkembang dan menjadi mandiri. Banyak di antara anak-anak ini yang tersangkut kasus hukum dalam berbagai profesi mereka, dan Abang Rikus pun tak jarang turun tangan untuk memberikan pendampingan hukum dan melakukan mediasi hingga ada solusi.
 
Itulah sosok Abang Rikus yang kami kenal di kalangan keluarga besar: tenang dan ramah (alias Mosa Mèku), bebas konflik dan pendamai, dan peduli dengan orang lain. Beliau adalah orang baik dan sungguh seorang "role model" - suri tauladan - bagi kami semua kaum keluarga dan kerabatnya di antara komunitas diaspora.
 
Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Abang Rikus mengalami gangguan kesehatan di jantungnya dan sempat dua kali memasang ring. Namun semangat hidupnya sangat besar dan beliau tetap menjalankan profesi lawyer-nya seperti biasa. Rupanya dalam minggu-minggu terakhir beliau terpapar Covid 19 yang kemudian membuat kesehatan beliau memburuk akibat komorbid yang dideritanya. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Beliaupun menghembuskan nafas terakhirnya di RS Mitra Keluarga, Kemayoran, pada tanggal 1 Juli 2021, di tengah-tengah keluarga yang mendampinginya. Beliau menghadap Sang Khalik menyusul ayahandanya, Om Herman Bhae Dèghe (tahun 2016 di Kampung Sadha-Wogo, Mataloko), dan kakak sulungnya Abang Leo Wèzo Bhae (tahun 2020 di Jakarta).
 
Kami sangat berduka karena kehilangan seorang panutan, bersama Mama Adel istrinya, beserta ketiga anaknya, Nona Tanti, Nona Liyani, dan Charlie. Kami turut mendoakan keselamatan arwahnya. Semoga Tuhan Yang Maha Rahim mengampuni segala kelemahannya dan menyambutnya untuk berbagia dalam Rumah-Nya. Amin.
 
Berikut selarik doa dalam bahasa daerah Ngada yaitu "Sara Ngadha":

Pa'u wai loda, loda bèta,
Kogo wai go sue, sue bheka.
Sango Mori Dewa rasi zi'a, zio milo,
Rida go muzi da melo redho,
Nenga kagho rao, sipo rimo,
Zeta one Sa'o Dewa da Santo,
Muzi ba sai dhu olo-olo. Amen.
 
Salam - S.B.S.
 
*Penulis adalah Pemerhati Budaya tinggal di Jakarta

×
Berita Terbaru Update
CLOSE ADS
CLOSE ADS